Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

06 July 2013

Dan Akhirnya Kami Bertemu

Malam itu tak akan mungkin terlupa dari ingatanku meski sudah 14 bulan berlalu. Malam bersejarah bagiku dan baginya.  Rabu dini hari pukul tiga, aku mendengar pintu kamarku diketuk perlahan. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu, namun tak ada seorangpun yang berada diluar. Aku kembali beranjak tidur. Lima menit kemudian perutku mulas. Aku bangun dan segera kekamar mandi tapi tidak terjadi apa-apa. Kuputuskan untuk kembali ke kamar lagi. Merebahkan badan lagi dan mulas itu kembali datang. Aku duduk dan berdiri. Mulasnya hilang. Aku tidur lagi mulas lagi. Lalu kuputuskan untuk berdiri dan jalan-jalan didepan rumah. Hari masih gelap. Tak ada seorang pun diluar. Hanya aku dan calon bayiku. Kuelus perutku yang sudah membesar. Perutku terasa kencang.
“Nak, apa kau mau lahir sekarang?”
Bayiku hanya bergerak lembut diperut.
Aku terus berjalan mondar-mandir diteras rumah. Di samping rumah adzan subuh sudah berkumandang. Bergegar ku menuju kekamar mandi dan berwudhu. Selesai sholat aku keluar rumah untuk jalan-jalan pagi seperti biasanya. Bayiku sangat aktif jika kuajak jalan-jalan. Tapi hari ini rasanya berat sekali. Biasanya aku berjalan kaki 1 jam. Namun karena terlalu lelah, aku hanya sanggup berjalan selama 30 menit.
Pukul delapan pagi hari mulas diperutku bertambah. Namun anehnya mulas itu segera hilang jika kugunakan untuk berjalan. Sampai mbah ice datang kerumah.
“Ono opo nduk? Kok mringis-mringis.”
“Perut kulo sakit mbah, tapi nek didamel jalan, sakite ilang.”
“Kenceng?”
“Enggeh.”
“Watako mengkok wes pembukaan nduk? Agi dipriksakne”.
Demi mendengar kata ‘pembukaan’ jantungku langsung berdebar kencang, takut, senang dan bingung campur aduk menjadi satu. Suamiku yang harusnya pergi kemalang untuk bekerja aku tahan agar jangan pergi. Aku merasa ada yang janggal, tapi tidak tahu apa. Menjelang siang sakit diperutku bertambah. Aku mengajak suamiku untuk segera periksa ke bidan. Beruntung bahwa bidanku hanya berselang beberapa rumah dari tempat tinggal kami. Aku tak mempersiapkan apapun karena hanya ingin periksa saja. Namun semua barang keperluan persalinan sudah kusiapkan jauh-jauh hari.
Setiba dibu bidan, aku segera merebahkan diriku di kasur. Kami menjalani pemeriksaan untuk mengetahui apa yang terjadi pada perutku dan ternyata aku sudah bukaan satu. Degup dijantungku semakin kencang.
“Tenang mbak, tetep rileks ya biar nanti persalinannya lancar. Terus berdoa. Kalau masih bisa melakukan sholat, dipakai sholat malah baik.”
“iya bu.”
“Sekarang mbak candra pulang dulu atau langsung nunggu disini?”
“Pulang saja bu.”
Orang-orang dirumah begitu heboh mendengar aku sudah bukaan satu. Aku segera ditanyai macam-macam pengen makan apa. Karena tak pengen apa-apa aku hanya menggeleng. Sampai mertuaku bertanya pengen makan apa? Aku menjawab pia. Karena dari seminggu kemaren aku pengen makan makanan itu, tapi tidak tahu harus beli dimana.
Pukul tiga sore suamiku mengajakku untuk segera ke bubidan dan membawa keperluan persalinan kami. Kata bu bidan sudah bukaan empat. Aku hanya bisa rebahan dan sesekali jalan-jalan untuk menghilangkan bosan. Pukul enam sore kembali diperiksa bukaan lima. Pukul Sembilan malam bukaan enam. Sampai pukul 12 malam bukaan mampet. Tidak ada tanda-tanda bahwa jalan lahir akan menambah bukaannya, sekeluarga panik karena melihat kondisiku sudah lemas menahan sakit tapi pembukaan tidak bertambah. Sampai bu bidan mengatakan kalau pukul 12.20 tidak nambah bukaannya terpaksa harus dioperasi. Kondisi si ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, dia sudah kepayahan.
“Ya Tuhan, kuatkan aku, aku ingin melahirkan secara normal.” Bisikku dalam hati. Suamiku hanya menunggui ku disamping dan mengelus kepalaku. Aku sangat melihat kepanikan diwajahnya, tapi sebisa mungkin ia menenangkan diri agar aku tak ikut panic
“Mas, aku ingin normal. Bayiku harus selamat apapun kondisinya.”
“Tenang sayang, semua akan baik-baik saja.”
Pukul 12.20. pembukaan tetap. Segera bubidan dan keluargaku melarikan aku ke rumah sakit. Ditengah hujan yang terus turun, malam-malam kami berkejaran dengan waktu. Terlambat sedikit saja fatal urusannya.
Para suster langsung mengecek kondisiku dan denyut jantung sibayi. Alhamdulillah bayi dalam keadaan sehat. Namun aku sudah kehabisan tenaga. Tanpa meminta persetujuanku suamiku langsung menandatangani kertas operasi. Dengan sisa tenanga yang kumiliki aku digiring ke ruang operasi. Sayangnya suamiku tidak bisa ikut. Aku hanya bisa mendengar suara dokter dan suster yang terllibat dalam operasiku. Mataku melihat garis-garis datar di samping meja operasiku. Badanku kebas. Lima menit kemudian tangisan itu muncul.
Ya Rabbi, demi tangisan ini seketika air mataku meleleh.
“Laki-laki, lengkap, sehat!” teriak sang suster saat melihat bayiku. Segera bayiku dibawa keluar dan aku hanya merasakan gelap.

******

“Laki-laki, lengkap dan sehat pak.” Kata sang suster sambil meraba semua bagian tubuh mungilnya. Laki-laki itu hanya meneteskan air mata. Perempuan paruh baya disampingnya pun ikut meneteskan air mata.
“Adzani anakmu”
Seketika kumandang adzan dibacakan, badan berbalut darah segar itu hanya menggeliat. Mereka membawanya ke ruang bayi untuk dibersihkan.
“Boleh saya ikut?” suara perempuan itu lirih.
“Boleh bu, silahkan.”
Bayi kecil itu sudah dimandikan dan dipakaikan gelang nama sesuai nama ibunya. Semua orang yang mengantar keluar ruangan.

******

“Dia sudah lahir pak”. Kata perempuan paruh baya itu dalam tangisnya. Suaminya hanya bisa memeluknya.
“Sabar bu, semuanya sudah berjalan lancar.”
“Candra pak, candra, semoga dia sehat.”
“Dia akan sehat bu, doakan saja. Tenangkan diri ibu”.

*****

Di kamar pasien
“Kau hebat sayang,  dia sudah lahir dengan selamat.”
“Bagaimana keadaanya mas, seperti apa dia?”
“Wajahnya sama sepertimu, kulitnya putih, tak ada satupun yang mirip denganku.” Katanya sambil menyungging senyum

******

Keesokan harinya                                                                   
Ibu menggendong seorang bayi mungil yang masih merah. Aku melihatnya dengan perasaan haru, senang, dan ada perasaan buncah yang tak bisa dilukiskan. Anakku. Akhirnya kita bertemu.


27 June 2013

Ketika al tantrum

Tadi malam sekitar pukul 01.30 Al mengalami tantrum.  Seketika dia menangis dengan keras sejadi-jadinya.  Aku yang saat itu persis tidur disampingnya sangat kaget. Segera kutetek’I  dia namun dia memalingkan muka dan menangis dengan lebih keras sambil menendang nendang winny the pooh nya.
Mengingat al juga mengalami tantrum bulan lalu, aku sudah tidak begitu stress.  Kubisikkan kata-kata dalam batinku sendiri “Al tidak menginginkan menangis ditengah malam, dia hanya kurang nyaman”. Aku mencoba menggendong al dan membawanya kedapur. Segera kuisi gelas minumnya dengan air putih dari jirigen. Dia menolak.

“Al sayang, al mau apa? Masih malem. Lihat.. masih jam setengah 1. Al ndak mau bobok lagi?” kataku sambil terus menggendong dan mengelur punggungnya. Dia tidak menjawab apapun, hanya tangisan yang keluar dari mulut mungilnya.

“Duduk ya, kalau al belum ngantuk ummi temenin al maen. Al pengen maen apa?” aku terus memberikan pertanyaan padanya dengan harapan dia akan berhenti menangis karena menjawab pertanyaanku. Suara tangisanya perlahan mulai reda meski sesekali dia masih sesenggukan. Aku mencoba untuk duduk, namun dia menolak. Aku berdiri dan dia pun lagi-lagi menolak. Akhirnya dia kubaringkan disamping abinya. Mendadak dia kembali menangis yang membuat abinya kali ini terbangun.


“Kenapa al?” Tanya abi pada al dengan mata masih sedikit tertutup. Ajaibnya al langsung berhenti menangis. Seketika dia menengadahkan tangannya kea rah abi (minta digendong). Tanpa babibu abipun langsung menggendongnya. Padahal sebelum-sebelumnya abi tak pernah menggendong ketika al menangis dimalam hari. Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Mereka berdua berjalan kea rah dapur dan abi memberikan segelas air yang kuisi tadi dan al meminumnya. Setelah minum al menjadi ceria, dia menunjuk bola yang ada didepan tv sambil berkata

 “ba..ba…ba…”
“Al pengen maen bola?” Tanya abi.
“Ba..ba…ba”
“Ayo, al turun ya. Duduk dan maen bola sama abi”
“da…da…pa..pa..”

Alih-alih duduk, al justru menendang bola yang sudah ada didepannya. Walhasil abi dengan setia menitah al kemanapun dia menendang bola. Capek berjalan kesana kemari dengan menendang bola, al pun minta duduk. Kemudian dia menunjuk peci yang aku taruh di pinggir ranjang. Abi langsung mengambilnya dan memberikan kepada al. dan al memakai peci itu kemudian mengajak abi mengambil sajadah. Abi pun dengan sabar menurutinya. Ada sedikit kehangatan melihat semua itu. Setelah sajadah ditangan al dan dibentangkan, al pun duduk di atasnya. Dan dia sujud. Sujud lama sekali. Seketika aku dan abi terpingkal pingkal. Al sholat. Selesai sujud al pun menoleh ke arahku dan tersenyum dengan riang. Tak puas dengan sholat al pun bermain dengan boneka winny the poohnya dan melihat tayangan bola di televisi. Namun tampaknya ia tak begitu menyukai televisi. Dia pun beranjak ke ranjang dan memainkan jari-jarinya sambil berguling-guling dan tertawa terpingkal pingkal. Setengah jam kemudian dia menguap berkali kali dan minta ditemani bobok. Dan dia pun pulas dengan mimpinya. Anak yang menggemaskan. Mimpi indah ya sayang. 

24 June 2013

Dia pun menyukai sayur

Sempat bingung juga menghadapi al yang belakangan ogah – ogah makan. Setelah sakit selama seminggu lebih dua hari, nafsu makannya sedikit. Frustasi gitu kayaknya kalau waktu nyuapin al eh ternyata dia kekeuh dengan aksi tutup mulutnya.  Kroscek lagi dengan seminggu olahan yang aku buat untuknya. Selama seminggu tidak sayur satupun menemani makan al setiap harinya. Aku lebih banyak memasakkan ayam, telur dan ikan ke dalam olahan yang tidak mengandung kuah, dan hasilnya dia hanya mau makan dengan telur ceploknya. Oh mungkin karena tidak ada kuah itu ya. Alhasil aku membuat sayur asem, ayam goreng dengan bumbu kentaki dan tahu goreng.

Ternyata dia suka.


Ajaib…aku jadi ingat ketika menemani dia makan, dia paling suka mengambil aneka sayuran dalam mangkuk sayurnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Begitu setiap hari jika menu makannya ada sayurnya. Dan dia lahap sekali menghabiskan mangkuk sayurnya. Dan kali ini terulang lagi. Dia begitu bersemangat menghabiskan sayur asem yang tediri dari daun kangkung, krai dan wortel dimangkuknya. Sambil menerima suapan nasi dan menggigit ayam kentaki di tangannya.

Subhanllah…rasanya membahagiakan sekali kalau dia lahap menghabiskan semangkuk makanannya dengan perasaan riang. Ternyata anakku menyukai sayuran. Dulu kukira dia tidak menyukai sayur seperti abinya. Dugaanku keliru. Dia sangat hobi makan sayur. Ok sayang, mulai hari ini ummi akan selalu menyediakan sayur untuk menu makanmu.

20 June 2013

Romantis itu....


Romantis itu ketika abi tersenyum dan mencoba menggendong disaat aku lagi asyik menulis. dan ....
"Emph... berat mi...huph....ga bisa". sambil berusaha tetap menggendong.

seketika aku tertawa terpingkal pingkal. Berat badanku tidaklah ringan abi, makasih ya sudah mau mencoba menggendongku meski tidak berhasil. Tapi ini sudah bisa membuatku tersenyum dan sekali lagi jatuh cinta. (^_^)

19 June 2013

Sehat ya sayang

Disetiap kejadian pasti ada hikmahnya.  Setelah seminggu lebih dua hari nungguin al sakit radang tenggorokan, akhirnya kini aku bisa bernafas lega. Melihatnya tidur pulas tanpa harus menyaksikan dia bangun malam sambil menangis batuk batuk dan susah bernafas akibat tekanan didadanya. Sedih ketika melihatnya begitu tersiksa menahan batuk. Dengan mata yang berkaca-kaca dan ngantuk, dia harus terbangun. Pernah suatu ketika karena lelah dan mendapati al terbangun dimalam  hari ada sedikit emosi yang menyergap. Kenapa tidak tidur saja, hari sudah malam, kenapa harus terbangun disaat aku harus beristirahat. Egois itu muncul dan diluar kendali. Padahal jika aku berfikir dingin, al tidak meminta untuk bangun, rasa yang tidak enak didadanya yang menyebabkan dia harus bangun dimalam hari. Dan itu sama sekali bukan kemauannya. Astagfirullah.. maafkan ummi al. kenapa tidak aku ajak saja dia berbicara, menggendongnya dan membiarkan dia tidur di pelukanku sambil melupakan sesak didadanya akibat batuk, kenapa tidak kuceritakan padanya buku dongeng sambil menantinya tidur kembali.


Ego memang terkadang menghilangkan semua hal positif yang bisa saja kita lakukan saat itu.  Selang tiga hari batuknya yang tak kunjung reda, aku semakin merasa bahwa aku membutuhkan al. disamping emosi yang ada didiriku, ada satu sisi dimana aku menginginkan al sehat, tersenyum bahagia ketika melihatku dan beraktifitas dengan riang seperti biasanya.  Tak peduli seberapapun lelahnya aku harus terbangun tiap setengah jamnya menenangkan dia ketika batuknya kambuh. Memberikan asi padanya ketika dia butuh kedamaian untuk meredakan rasa yang tidak enak ditubuhnya selama sakit. Aku bahkan tak peduli sudah berapa jam aku memejamkan mata sekedar untuk menghilangkan penat.

Dalam untaian doaku selalu terselip namanya dan kesehatannya. Ah begitu tak berharganya apa yang kumiliki sekarang tanpa melihat al tumbuh dengan sehat. Semuanya terasa hampa jika aku tidak melihat senyumnya dan matanya yang berbinar ketika mengetahui sesuatu yang baru. Semua terasa tak berarti. Aku semakin sadar, setelah menjadi seorang ibu, seegoisnya diriku, aku tetap berharap putraku mendapatkan yang terbaik dan tumbuh sehat. Seminggu ini memberikan hikmah yang begitu banyak padaku, betapa aku harus banyak belajar memanage kesabaran dan mengerti arti mencintai yang sesungguhnya. Al, jika suatu saat kau membaca ini, ummi ingin katakan satu hal, ummi sangat mencintai al. ummi berharap al mendapatkan yang terbaik dalam hidup dan selalu disayangin Alloh. Ummi sayang al karena Alloh. Sehat yang sayang, masa depan yang cerah menantimu. 

13 May 2013

Kenapa kita jatuh cinta dan menikah?



Hari ini menjelang dua tahun kami bersama, kehidupan kami sangat membahagiakan, diwarnai dengan segala urusan rumah tangga seperti layaknya rumah tangga yang lainnya, dan Alhamdulillah kami diberi amanah untuk menjaga si kecil Abdurrahman alghifari.

Dihari ini juga aku semakin bersyukur pada Allah karena dikenalkan dengan suamiku, dipertemukan dengan laki-laki biasa yang luar biasa. Dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dia dengan kesabaran yang amat sangat menghadapi polah tingkahku yang terkadang seperti anak kecil, merengek minta dibelikan balon, dia yang selalu ada ketika hati mulai berkecamuk dengan selentingan omongan yang tidak seharusnya difikirkan, karena toh banyak sekali hal-hal positif yang lebih layak untuk difikirkan. Dan dia adalah laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.

Pada awal kami bertemu, aku sangat membencinya, dia berada diurutan pertama laki-laki yang harus kuhindari. Menurutku dia laki-laki yang rapuh, laki-laki yang tidak dapat berfikir dewasa, laki-laki yang hanya mencari kesenangan saja. Namun seiring berjalannya waktu, semua prasangka itu mampu diluluhlantakkan oleh semua pembuktiannya ketika dia selesai membacakan ijab Kabul. Laki-laki yang kubenci justru berubah menjadi laki-laki yang tangguh, dewasa dan bertanggung jawab. Seketika aku sadar, aku mencintainya dan cinta itu tumbuh seiring dengan waktu berlalunya hari-hari pernikahan kami.  Cinta yang halal dan cinta yang bertanggung jawab.

Aku bangga karena aku lah orang pertama yang mengajaknya menikah. Berbeda dengan situasi kebanyakan dimana laki-laki lah yang meminta untuk menikah. Bagiku ajakan itu bukan untuk merendahkan harga diriku justru pembuktian bahwa aku begitu menghormatinya, terlepas dari minimnya materi yang kumiliki saat itu. Disaat dia gencar-gencarnya mengejar dan mengajak menikah, aku tak peduli. Namun disaat dia menghilang dan aku tak punya satu pun akses untuk menemuinya, aku justru mengingat kertas bertuliskan nomor telepon persis dibawah meja komputerku. Tertutup debu dengan kertas yang kumal karena lama tak tersentuh. Dengan rasa takut, cemas dan tak tahu harus berfikir apa lagi, aku menelfonnya. Memintanya untuk menikahiku dengan bahasa yang aneh. Jika aku mengingat saat itu sekarang, aku hanya bisa tersenyum dan malu dan aku tak menyesal sudah melakukan hal itu, karena ternyata dia adalah ayah terbaik untuk anak-anakku.

Kenapa kita jatuh cinta dan menikah? Aku rasa kau memang tercipta untukku, begitupun sebaliknya. Dan aku hanya berusaha mencari dimana kepingan hati itu berada. Dan ternyata kepingan itu ada pada dirimu.

Abi, terima kasih telah mengajariku bagaimana cara untuk mencintai.

 

30 April 2013

..:: Saat Kekayaan Tak Lagi Cukup ::..


Dulu aku mengira bahwa “Bahagia” adalah ketika hidupmu bergelimang harta, kau bisa bebas menentukan apa saja yang kau inginkan tanpa memusingkan dapat uang dari mana, bebas untuk memilih segala jenis kebutuhan bahkan untuk sekedar memanjakan keinginan.  Belakangan kusadari bahwa pikiranku itu salah, “Bahagia” tak semata hanya bergelimangan harta.
Aku benar-benar egois, demi memuliakan ego yang bersarang didalam hatiku, aku keluar rumah untuk bekerja. Menikmati sapaan dan sanjungan orang karena melihatku melakukan sesuatu yang ‘menghasilkan’. Mengabaikan perintah suamiku untuk ‘bekerja’ sebagai ibu rumah tangga dirumah. Pekerjaan seven to seven yang bagiku adalah bukan pekerjaan karena orang-orang tak akan melihatku ‘menghasilkan’ sesuatu. Sebuah sebutan yang membuatku malu ketika teman-teman sejawatku yang kebanyakan kerja dikantor menanyai ‘apa pekerjaanmu?’. Dengan nada pesimis dan senyuman tipis terpaksa kujawab ‘ibu rumah tangga’. Aku melenggang mantap dengan karir pendidikanku di luar rumah. Namun belakangan aku merasa kehidupan ini hambar. Memang aku memegang uang banyak, tapi ada rasa gersang didalam hatiku ketika melihat seorang anak kecil yang bergelayut manja di pundak ibunya. Ada perasaan sedih ketika pulang ke rumah hanyalah lelah yang kubawa, tidur dan tak menghiraukan apa yang anak dan suamiku butuhkan, dengan alas an ‘aku lelah’. Hatiku hanya berkata ‘ini tidak benar’. Aku diam membisu berhari hari dan memutuskan untuk meninggalkan karir diluar rumah ku dan focus untuk menjadi ibu rumah tangga professional di rumahku sendiri. Seven to seven yang kujalani bukanlah pekerjaan yang sepele. Disaat orang hanya bekerja 7-8 jam sehari, aku bekerja 24 jam. Dan aku bangga. Dan hatiku berbisiki, kekayaan tak lagi cukup untuk kebahagiaanku, aku bahagia dengan menjadi ibu professional dirumahku sendiri.
Bahagia adalah saat kau tumbuh bersama anakmu, menikmati fase-fase tumbuh kembang mereka, menyaksikan saat-saat pertama mereka belajar untuk berkata “pa..pa ; ma..ma ; da..da ; ta..ta”.
Bahagia adalah dimana kau mempunyai waktu untuk mengurusi semua keperluan anak dan suamimu mulai mereka bangun tidur sampai mereka tidur lagi.
Bahagia adalah ketika kau menghabiskan waktumu seharian untuk menemani anakmu main, walaupun kau harus belepotan spidol, crayon bahkan tanah.
Bahagia adalah ketika kau memberikan semua yang kau punya semaksimal mungkin untuk orang-orang yang kau cintai, dan tersenyum ketika melihat senyuman tulus diwajah mereka.

17 December 2012

Borong Buku


Alhamdulillah, akhirnya bisa beli buku lagi setelah hampir dua bulan tidak pergi ke toko buku. Di sini memang ada toko buku yang dekat dengan rumah, namun sedikit sekali item yang menarik untuk dibeli. Akhirnya belanja online pun menjadi pilihan utama. Langsung deh hidupin komputer diruang tengah dan meluncur ke alamat http://gramediaonline.com untuk searching buku yang diinginkan. Setelah hampir satu jama klik sana klik sini, sayapun mantab untuk membeli beberapa buku.

Ini beberapa buku yang saya pilih, insyaallah bermanfaat dan sarat akan ilmu.





Proses pembayaran pun sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu buku itu datang ke rumah saya dan siap dinikmati.

21 March 2012

Cintaku mau melihat dunia

Tujuh hari lagi atau seminggu tepatnya insyaAllah perkiraan si kecil tercinta akan lahir. Bahagia bercampur rasa deg deg-an menunggu detik-detik dia melihat dunia. Mudah-mudahan proses kelahirannya nanti lancar. Dia sehat dan sempurna. Apapun jenis kelaminnya, ummi akan bahagia kamu hadir sayang.

Kata bidan dan beberapa teman yang pernah melahirkan menyarankan untuk sering dibuat jalan dan banyak minum air putih menjelang hari kelahiran karena kedua cara tersebut diyakini mempermudah proses kelahiran nanti. Meskipun kurang seminggu dari tanggal perkiraan, perutku sudah mulai sering kontraksi. Kata temanku itu adalah kontraksi palsu karena jaraknya masih lama antara kontraksi pertama dan kontraksi kedua. Sembelit juga gangguan akhir-akhir ini. Meski perut sakit tapi susah sekali untuk buang air besar. Terkadang malah terpaksa ngeden tapi kata teman-teman malah ndak dibolehin karena akan memperparah kontraksi. Saran dari mereka biarin aja meski agak ga enak.

Gerakan bayiku sekarang makin tambah lincah. Kalo dibuat diem aja malah tambah gerak-gerak tapi kalau dibuat jalan-jalan atau berdiri dia malah diam. Hm… kadang sering nyesek tapi lucu juga ngliat gerakannya yang kadang bisa buat perutku meruncing di satu sisi. Kalau siang diajak tidur gerak gerak lagi. Tapi menjelang sore tiba gantian dia yang diem, umminya yang ngantuk. Hehehe….

Cintaku yang sebentar lagi melihat dunia, ummi sudah ndak sabar pengen ketemu kamu. Jadi anak yang sholeh/sholehah ya sayang. Cinta Allah, cinta rasulnya, berbakti pada orang tua dan bermanfaat untuk orang lain. Semoga kamu diberi keindahan fisik dan hati. Amin. Love you sayang.

20 May 2011

Gelas Kaca

Hari beranjak sore, matahari hampir tenggelam saat kaki-kaki legam mengayuh sebuah becak dengan peluh yang mengalir dari dahinya melewati jembatan Sondrian, kota kecil dipelosok Jawa Timur. Gurat lelah menghiasi wajah yang terlihat lebih tua dari umurnya. Beberapa meter didepannya ada sebuah warung desa, sebuah desa yang harus ia lewati sebelum masuk ke desanya sendiri. Warung mbak Rahmi, begitulah orang-orang warung menyebutnya. Janda muda yang tidak punya anak. Bentuk tubuh yang membuat setiap mata lelaki terpana ditunjang dengan paras yang cantik semakin menambah daya pikatnya.

Diparkirnya becak itu disamping warung.
“Pulang narik kang?” sapa Soleh, salah satu temannya yang berprofesi sebagai tukang ojeng.”
“Iya Leh, dah mau pulang to?”
“Iya, nyonyaku dah nunggu”. Semburat tawa terlepas dari wajahnya bersahabat.
Sore itu banyak sekali pembeli, mayoritas laki-laki dengan asap rokok yang mengepul diudara. Membuat warung yang sempit itu semakin sempit dengan kepulan racun mereka. Seperti biasa mbak Rahmi berdandan sangat cantik berbalut kaos dengan potongan leher yang rendah membuat payudaranya terlihat lebih menarik.
“Makin nyembul aja tu mbak.” Seloroh salah satu pelanggan tetapnya.
“Ah.. kang Danu ini ada-ada aja.” Jawabnya dengan genit sembari melirik laki-laki yang baru saja bicara dengannya.
“Eh mas Slamet, kopi kental to?”
Tanyanya pada pria yang baru saja memarkir becaknya tak lupa dengan suara kenes dan kerlingan mata.
“Satu sendok gula ya mbak.”
“Iya, Rahmi sudah hapal kok.”
Pria itu duduk di amben kayu disamping pintu masuk. Kaki kanannya ia angkat ke atas sambil mengambil sebatang rokok tertata dalam gelas dimeja. Mbak Rahmi meletakkan gelas dengan sedikit mendekat ke tempat Slamet duduk.
“Ini mas, capek ya?”
Harum parfum pemilik warung itu menggelitik syaraf kelelakiannya, namun ia mampu menguasai diri.
“Sepi mbak, kebanyakan tukang becak yang lain malah ndak narik.” Ia menyeruput kopi kentalnya.

“Met, kapan bojomu balik?”
“Masih lama kang, kontraknya baru jalan 1 tahun setengah.”
“Loh iya toh? Wah masih lama no, kamu mau ikut opo ora? Aku tahu tempatnya genggek-genggek ayu.” Ucapnya sembari tertawa.
“Ngomong opo to kang sampeyan iki.”
Slamet malu mendengar ajakan temannya itu. Ia mulai salah tingkah.
“Halah, ojo munafik!!! Ditinggal bojo mestine kowe yo pengen. Rak yo ngono to?”
Slamet hanya tersenyum dan kembali menyeruput kopinya. Dinikmatinya kopi itu dengan hisapan rokok dimulutnya. Terkadang ia merindukan belaian wanita namun hal itu ditepisnya mengingat istrinya bekerja di Taiwan. Teman-teman ojek tak henti-hentinya mengajaknya ke tempat-tempat lendir karena bagi mereka kesenangan adalah hal yang biasa.

Ia pun tiba dirumahnya. Gadis berusia tiga belas tahun dengan wajah sumringah menyambut kedatangannya.
“Assalamualaikum”. Gadis itu tersenyum. Slamet yang sadar bahwa Gadis itu menyindirnya karena tak mengucapkan salam ketika memasuki rumahpun kontan menjawabnya.
“Waalaikumsalam.”
“Kok sampek malem pak nariknya. Bapak sudah sholat?”
“Oh..ehm..sudah tadi dijalan.” Laki-laki itu menjawab dengan tergagap.
“Adekmu mana nar?”
“Di langgar pak, belajar ngaji sama ustad Munir.”
“Oh.. ya udah buatkan bapak kopi.”
“Iya”.

*****
Pagi sudah menyingsing. Ia berangkat narik. Namun sebelum berangkat ia mampir ke warung mbak Rahmi untuk membeli kopi. Dilihatnya penjual seksi itu. Warung masih teramat sepi. Ada rasa yang tak bisa ia tahan ketika melihat mbak Rahmi yang pagi itu baru saja kramas. Rambutnya yang masih basah membuat cetakan gelap di atas kaos ketatnya. Selesai menghabiskan kopinya, ia pun pergi. Entah mengapa hari itu ia terus teringat akan perkataan teman ojeknya kemaren. Tawa dan senyuman culas terus saja terbayang dibenaknya. Satu dua orang menggunakan jasanya becaknya. Dengan senang hati ia mengayuh. Hari itu ia pulang lebih awal dari biasanya. Sesampai dirumah dilihatnya Dinar dan adeknya sedang bermain boneka-bonekaan didepan rumah. Pikiran setan mulai merasukinya ketika melihat Dinar memakai kaos dan roknya.
“Dinar, buatkan kopi buat bapak dan bawa ke kamar.”
“Iya pak.”
“Dek, mainan sendiri dulu ya, mbak mau buat kopi untuk bapak.” Ucapnya sambil mengusap lembut rambut Puji, adik semata wayangnya yang berusia enam tahun.
“Iya. Nanti kesini lagi ya mbak.”
“Iya, mbak gak akan lama”. Ditinggalnya adiknya bermain sendirian dihalaman rumah mereka.

Gadis kelas dua SMP itu mengaduk-aduk kopi kental kesukaan bapaknya dan kemudian mengantarnya ke kamar tidur bapaknya. Disana bapaknya tergeletak dengan bertelanjang dada.
“Ini pak.”
Dinar meletakkan secangkir kopi di meja sebelah ranjang bapaknya.
“Nar tunggu, bapak pusing tolong pijiti kepala bapak dulu.”
Laki-laki itu bangun dan duduk menghadap tembok. Dinar melangkah mendekat tanpa memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Disentuhnya kepala bapaknnya dengan kedua tangannya. Seperti sengatan listrik, kulit Slamet yang tak pernah tersentuh dengan tangan wanita membuatnya menikmati setiap pijatan anak kandungnya itu. Perlahan-lahan nafasnya memburu. Dorongan besar dan pikiran yang gelap menutupi semua akal sehatnya. Dengan cepat ia berbalik dan mendorong tubuh Dinar ke tembok. Diciumnya tubuh gadis itu dengan membabi buta. Dinar yang tak siap dengan perlakuan ini sontak kaget dan berusaha melepaskan cengkeraman bapaknya.
“Bapak, apa yang bapak lakukan.”
Ucapnya terbata-bata sembari berusaha melepaskan dekapan bapaknya.
“Diam saja, turuti kemauan bapak hari ini. Bapak akan ngasih kamu uang sepuluh ribu.”
“Pak, lepaskan. Dinar ndak mau.” Ia berusaha terus untuk menjauhkan tubuhnya dari tubuh laki-laki itu tapi tenaganya tak mampu melakukannya. Seperti kesetanan sang bapak pun dengan kasarnya melepas baju dinar sehingga beberapa kancingnya terlepas dan jatuh dikasur. Gadis itu semakin panik dan menggigit tangan bapaknya. Sang bapak pun mengaduh sakit dan melayangkan tamparan ke pipi Dinar membuatnya semakin membabi buta menggauli anaknya sendiri. Gadis SMP yang tak berdaya itu dengan mudahnya terbaring keranjang dan menerima perlakukan yang menyakitkan. Setiap gerakannya selalu mampu di tangkis oleh bapaknya dengan cepat. Sentuhan, rabaan dan ciuman yang diterimanya bagaikan pisau yang mengiris tubuhnya dengan sangat cepat. Detik demi detik ia lalui dan tak seorang pun tahu. Hanya dia dan laki-laki itu.
Teriakannya tertahan saat bapaknya membekap mulutnya dengan tangan dan merasakan benda asing yang menerobos masuk ketubuhnya. Ia menangis. Terisak diantara sengalan nafas bapak yang menindihnya tanpa ampun. Layaknya orang yang tak punya nurani, laki-laki itu terus saja menuntaskan hasratnya sampai ia kelelahan dan mendapatkan apa yang ia mau. Tubuhnya ambruk di atas tubuh Dinar. Gadis itu menjerit dalam hati dan terisak sambil menahan kepala bapaknya yang menindih dadanya.

“Ini uang sepuluh ribu. Belilah jajan”. Slamet berkata sangat dingin. Ia mengambil rokok disaku celana yang tergantung di temboknya dan mengepulkan asap pekat.
Dinar tidak mau menerimanya dan hanya menangis. Namun Slamet terus mendesaknya dan mengepalkan selembar uang itu ditelapak tangan dinar. Gadis itu menuruni ranjang dan berjalan ke arah pintu dengan terseok-seok. Kakinya sedikit melebar menahan perih yang ada diselakangnya. Rembesan yang ada dipaha dalamnya semakin membuatnya sedih. Ia menahan tangis sembari melangkahkan kaki keluar rumah. Dilihatnya Puji masih bermain dengan bonekanya. Didekatinya adeknya itu dan diusapnya lembut rambut ikalnya. Adiknya menoleh dan tersenyum.
“Mbak, lama sekali.” Dinar hanya tersenyum. Tercekat dalam tangis yang tertahan.
“Mbak sudah balik sayang.”
“Mainan boneka lagi ya.” Gadis itu menggeleng.
“Mbak mandi dulu ya, nanti kita main lagi.”
“Puji ikut ya.”
“Jangan, adek disini saja. Mbak akan cepat mandinya.” Diciumnya lembut kening adeknya. Puji hanya tersenyum manja. Dinar beranjak kekamar mandi.
“Mbak, kaki mbak kenapa?”
“Tadi terpeleset sayang.” Ia segera berbalik dan pergi kekamar mandi. Dilihatnya lembaran uang itu. Rasa jijik melingkupi hatinya. Diremasnya kuat-kuat uang itu dan ia ludahi berkali-kali. Ia lakukan berulang ulang dan kemudian membuangnya dilubang kamar mandi. Ia menjatuhnya tubuhnya dan menyandarkan diri ditembok kamar mandi. Ia kembali menangis.

“Nduk, jaga adekmu ya. Dua tahun lagi ibuk pulang. Nurut sama bapak ya nduk.”
“Cepat pulang ya buk.” Dinar mendekap tubuh ibunya sesaat sebelum tubuh wanita itu melangkah masuk ke bandara.


19 May 2011

Spring Part II


I  hope, I can be the one for you

“Wanita itu mencintaimu, dan kau juga mencintainya. Tidakkah kau merasakan jiwamu yang sangat bergelora saat bersamanya?”
“Itu bukan cinta, tapi nafsu.”
“Hahahaha… nafsu apa? Kau melakukannya karena kau mencintainya. Kau menikmatinya.”
“Menikmati apa? Kesalahan kah? Dosa yang secara jelas kulakukan?”
“Sejak kapan kau berfikir tentang dosa? Apa kau ingat kapan terakhir kali kau berdoa?”
“Cukup!!! Aku memang tidak ingat semuanya. Tapi yang kulakukan sekarang adalah hal yang nista. Tidakkah kau lihat istriku yang sangat baik sedang tak menentu dikamarnya.”
“Beberapa jam kemudian dia akan normal kembali. Bagaimana dengan wanita itu? Bagaimana dengan gairahmu saat bersamanya?”
“Itu bukan gairah. Itu nafsu!!!”
“Hahahaha…. Kau mulai membedakan antara nafsu dan gairah. Tinggalkan istrimu. Wanita itu sedang menunggumu sekarang.”
“Cukup. Hentikan!!!”

Rendra hanya bisa mendengarkan pergulatan antara dia dan dia. Dua sosok yang melekat dalam tubuhnya. Alisnya bertaut menahan amarah yang ia tumpahkan pada diri nya sendiri.
“Benarkah aku dendam padanya?” Ia berucap lirih. Tanganya mengepal dan memukulkannya disofa tempatnya duduk. Dilihatnya sekilas pintu kamar tidur yang terbuka sedikit. Ia beranjak dan melangkah kekamarnya. Dipegangnya gagang pintu dan membukanya lebih lebar. Istrinya duduk dengan isakan tangis yang tertahan.

I was so far from you
Yet to me you were always so close
I wondered lost in the dark
I closed my eyes toward the signs
You put in my way

Alunan lagu maher zein terdengar nyaring dari ruang keluarga. Hp milik istrinya tertinggal diruangan itu. Lidia tak beranjak dari tempat tidurnya. Suara itu mungkin terlalu pelan untuk didengarnya. Rendra mendekati sumber suara dan melihat tulisan yang tertera dilayar.

My mom
08183495389
Calling

“Halo.”
“Assalamualaikum nak Rendra.” Terdengar suara pelan ibu dari seberang.
“Ibu….”
Rendra mendengarkan dengan seksama tiap kata yang diucapkan ibu mertuanya. Berita bahwa ibu dan ayah mertuanya akan datang hari sabtu depan semakin membuatnya merasa bersalah. Keluarga yang sangat baik padanya, pantaskah harus ia lukai dengan tindakannya. Gairah atas nama cinta? Hanya jawaban iya dan iya yang ia lontarkan sembari lelehan air mata. Ia pun tak sadar ketika Lidia keluar dari kamar mereka. Ia terduduk lemas dikursi. Malam ini terasa begitu dingin meskipun ada penghangat ruangan dirumah nya. Hatinya panas oleh amarah.
“Berwudhulah”.
Ia mendengar suara dari dalam dirinya. Berwudhu, entah kapan terakhir kali ia berwudhu ditengah malam yang dingin ini. Malam seperti ini biasanya ia habiskan bersahabat dengan selimut tebalnya. Ia menghela nafas berat. Antara ia dan tidak ia ingin beranjak. Dan akhirnya ia beranjak untuk mengambil air wudhu.
Dingin, sejuk, damai, itulah yang ia rasakan. Air matanya tak hentinya meleleh kembali.
Ia membuka kamar tidur mereka. Ada sajadah yang masih terhampar di lantai. Mungkin istrinya baru saja sholat. Sudah menjadi kebiasaan bahwa Lidia akan bangun malam. Dilihatnya ranjang itu. Tergeletak tubuh Lidia dengan membelakanginya.
“Apakah kau sudah tidur?” gumamnya dalam hati.

“Allahu akbar”.
Ia terdiam khusuk dalam munajadnya. Inilah yang pertama sejak waktu-waktu panjang yang ia tinggalkan. Ia mencoba mengingat semua bacaan sholat yang telah ia lupa. Lelehan air mata pun tak hentinya menetes dan membasahi pipinya.
“Assalamualaikum warahmatullah”.

Tangisnya semakin pecah. Lidia yang sedari tadi tidak bisa tidur tertegun mendengar isakan tangis suaminya. Namun ia tak punya keberanian untuk menoleh.
“Robbi, ampuni hambamu yang hina ini. Ampuni hamba. Hamba lalai, hamba rapuh. Tak sepantasnya hamba melakukan ini. Ini bukan cinta Robbi, ini bukan cinta. Tak sepantasnya hamba menghianatinya, istri yang hamba kasihi. Wanita yang hamba cintai. Namun hamba tak berdaya dengan godaan ini. Ampuni hamba ya Robbi.”

Lidia kembali terisak. Perlahan-lahan ia turun dari ranjang. Didekatinya tubuh suaminya yang masih terisak bermunajad. Dipeluknya punggung lebar itu. Rendra sadar bahwa istrinya tidak tidur. Didekapnya tangan yang melingkar ditubuhnya. Didekapnya dekapan itu dengan erat.
“Maafkan aku sayang. Aku khilaf”.
“Tidak. Aku yang minta maaf. Aku tak mampu memberikan apa yang kau inginkan, dan itu kau temui diwanita lain.”
Rendra berbalik. Dipandanginya wajah istrinya, diusapnya air mata yang menetes dipipi istrinya. Tangan yang mendekapnya ia pegang dengan erat.
“Jangan berkata seperti itu. Kau telah memberikan yang terbaik untukku. Namun aku goyah. Imanku yang lemah dan kesibukanku bekerja mampu melupakanku akan hadirnya dirimu. Ini karena kurangnya rasa syukurku atas apa yang kumiliki. Ini juga bukan karena dendam sayang, karena aku sudah melupakannya.”
Rendra memeluk tubuh istrinya. Dibiarkannya mereka berdua terisak dalam tangis.

Spring
Like my felling about you
Slowly
But I knew
Long by long
That the truly love I’ve ever had
Is YOU
I love you cause Allah

Rendra teringat surat yang diberikan istrinya beberapa tahun yang lalu.

*****

Beberapa hari kemudian, mereka berkumpul bersama dengan orang tua Lidia. Bercanda dan tertawa bersama. Inilah keluarga yang mereka dambakan. Inilah kebahagian yang mereka cari. Kebersamaan yang akan mereka lalui bersama.