Showing posts with label yang dirasa. Show all posts
Showing posts with label yang dirasa. Show all posts

06 July 2013

Dan Akhirnya Kami Bertemu

Malam itu tak akan mungkin terlupa dari ingatanku meski sudah 14 bulan berlalu. Malam bersejarah bagiku dan baginya.  Rabu dini hari pukul tiga, aku mendengar pintu kamarku diketuk perlahan. Aku beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu, namun tak ada seorangpun yang berada diluar. Aku kembali beranjak tidur. Lima menit kemudian perutku mulas. Aku bangun dan segera kekamar mandi tapi tidak terjadi apa-apa. Kuputuskan untuk kembali ke kamar lagi. Merebahkan badan lagi dan mulas itu kembali datang. Aku duduk dan berdiri. Mulasnya hilang. Aku tidur lagi mulas lagi. Lalu kuputuskan untuk berdiri dan jalan-jalan didepan rumah. Hari masih gelap. Tak ada seorang pun diluar. Hanya aku dan calon bayiku. Kuelus perutku yang sudah membesar. Perutku terasa kencang.
“Nak, apa kau mau lahir sekarang?”
Bayiku hanya bergerak lembut diperut.
Aku terus berjalan mondar-mandir diteras rumah. Di samping rumah adzan subuh sudah berkumandang. Bergegar ku menuju kekamar mandi dan berwudhu. Selesai sholat aku keluar rumah untuk jalan-jalan pagi seperti biasanya. Bayiku sangat aktif jika kuajak jalan-jalan. Tapi hari ini rasanya berat sekali. Biasanya aku berjalan kaki 1 jam. Namun karena terlalu lelah, aku hanya sanggup berjalan selama 30 menit.
Pukul delapan pagi hari mulas diperutku bertambah. Namun anehnya mulas itu segera hilang jika kugunakan untuk berjalan. Sampai mbah ice datang kerumah.
“Ono opo nduk? Kok mringis-mringis.”
“Perut kulo sakit mbah, tapi nek didamel jalan, sakite ilang.”
“Kenceng?”
“Enggeh.”
“Watako mengkok wes pembukaan nduk? Agi dipriksakne”.
Demi mendengar kata ‘pembukaan’ jantungku langsung berdebar kencang, takut, senang dan bingung campur aduk menjadi satu. Suamiku yang harusnya pergi kemalang untuk bekerja aku tahan agar jangan pergi. Aku merasa ada yang janggal, tapi tidak tahu apa. Menjelang siang sakit diperutku bertambah. Aku mengajak suamiku untuk segera periksa ke bidan. Beruntung bahwa bidanku hanya berselang beberapa rumah dari tempat tinggal kami. Aku tak mempersiapkan apapun karena hanya ingin periksa saja. Namun semua barang keperluan persalinan sudah kusiapkan jauh-jauh hari.
Setiba dibu bidan, aku segera merebahkan diriku di kasur. Kami menjalani pemeriksaan untuk mengetahui apa yang terjadi pada perutku dan ternyata aku sudah bukaan satu. Degup dijantungku semakin kencang.
“Tenang mbak, tetep rileks ya biar nanti persalinannya lancar. Terus berdoa. Kalau masih bisa melakukan sholat, dipakai sholat malah baik.”
“iya bu.”
“Sekarang mbak candra pulang dulu atau langsung nunggu disini?”
“Pulang saja bu.”
Orang-orang dirumah begitu heboh mendengar aku sudah bukaan satu. Aku segera ditanyai macam-macam pengen makan apa. Karena tak pengen apa-apa aku hanya menggeleng. Sampai mertuaku bertanya pengen makan apa? Aku menjawab pia. Karena dari seminggu kemaren aku pengen makan makanan itu, tapi tidak tahu harus beli dimana.
Pukul tiga sore suamiku mengajakku untuk segera ke bubidan dan membawa keperluan persalinan kami. Kata bu bidan sudah bukaan empat. Aku hanya bisa rebahan dan sesekali jalan-jalan untuk menghilangkan bosan. Pukul enam sore kembali diperiksa bukaan lima. Pukul Sembilan malam bukaan enam. Sampai pukul 12 malam bukaan mampet. Tidak ada tanda-tanda bahwa jalan lahir akan menambah bukaannya, sekeluarga panik karena melihat kondisiku sudah lemas menahan sakit tapi pembukaan tidak bertambah. Sampai bu bidan mengatakan kalau pukul 12.20 tidak nambah bukaannya terpaksa harus dioperasi. Kondisi si ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan normal, dia sudah kepayahan.
“Ya Tuhan, kuatkan aku, aku ingin melahirkan secara normal.” Bisikku dalam hati. Suamiku hanya menunggui ku disamping dan mengelus kepalaku. Aku sangat melihat kepanikan diwajahnya, tapi sebisa mungkin ia menenangkan diri agar aku tak ikut panic
“Mas, aku ingin normal. Bayiku harus selamat apapun kondisinya.”
“Tenang sayang, semua akan baik-baik saja.”
Pukul 12.20. pembukaan tetap. Segera bubidan dan keluargaku melarikan aku ke rumah sakit. Ditengah hujan yang terus turun, malam-malam kami berkejaran dengan waktu. Terlambat sedikit saja fatal urusannya.
Para suster langsung mengecek kondisiku dan denyut jantung sibayi. Alhamdulillah bayi dalam keadaan sehat. Namun aku sudah kehabisan tenaga. Tanpa meminta persetujuanku suamiku langsung menandatangani kertas operasi. Dengan sisa tenanga yang kumiliki aku digiring ke ruang operasi. Sayangnya suamiku tidak bisa ikut. Aku hanya bisa mendengar suara dokter dan suster yang terllibat dalam operasiku. Mataku melihat garis-garis datar di samping meja operasiku. Badanku kebas. Lima menit kemudian tangisan itu muncul.
Ya Rabbi, demi tangisan ini seketika air mataku meleleh.
“Laki-laki, lengkap, sehat!” teriak sang suster saat melihat bayiku. Segera bayiku dibawa keluar dan aku hanya merasakan gelap.

******

“Laki-laki, lengkap dan sehat pak.” Kata sang suster sambil meraba semua bagian tubuh mungilnya. Laki-laki itu hanya meneteskan air mata. Perempuan paruh baya disampingnya pun ikut meneteskan air mata.
“Adzani anakmu”
Seketika kumandang adzan dibacakan, badan berbalut darah segar itu hanya menggeliat. Mereka membawanya ke ruang bayi untuk dibersihkan.
“Boleh saya ikut?” suara perempuan itu lirih.
“Boleh bu, silahkan.”
Bayi kecil itu sudah dimandikan dan dipakaikan gelang nama sesuai nama ibunya. Semua orang yang mengantar keluar ruangan.

******

“Dia sudah lahir pak”. Kata perempuan paruh baya itu dalam tangisnya. Suaminya hanya bisa memeluknya.
“Sabar bu, semuanya sudah berjalan lancar.”
“Candra pak, candra, semoga dia sehat.”
“Dia akan sehat bu, doakan saja. Tenangkan diri ibu”.

*****

Di kamar pasien
“Kau hebat sayang,  dia sudah lahir dengan selamat.”
“Bagaimana keadaanya mas, seperti apa dia?”
“Wajahnya sama sepertimu, kulitnya putih, tak ada satupun yang mirip denganku.” Katanya sambil menyungging senyum

******

Keesokan harinya                                                                   
Ibu menggendong seorang bayi mungil yang masih merah. Aku melihatnya dengan perasaan haru, senang, dan ada perasaan buncah yang tak bisa dilukiskan. Anakku. Akhirnya kita bertemu.


05 July 2013

Nomer Wahid

sumber : dari mbah google

Kalau ditanya tentang apa kenikmatan nomer wahid di Dunia, aku akan dengan mantap menjawab “TIDUR”.  Insomnia yang sempat menyerangku selama 1 minggu beberapa hari yang lalu membuatku semakin bersyukur akan nikmat kantuk yang diberikan Allah. Disaat suami dan anakku lelap dalam tidurnya, aku justru bahkan sedikit pun tidak bisa tidur. Mencoba untuk sekedar memejamkan mata ujung-ujungnya malah melek lagi. Rebahan, miring ke kiri, miring ke kanan, hasilnya nihil. Mata tetep aja ndak mau tidur. Duh gusti…. Rasanya emosi hampir meledak. Lihat jam dinding udah nunjukin pukul tiga pagi, ga ada tanda-tanda kantuk sedikitpun, bahkan menguappun tidak.

Berhubung libur, alhasil ngeblog pun jadi teman untuk terjaga. Baca-baca plus bertandang ke blog teman-teman yang ada dilist bacaan sedikit mengobati kesepian di dini hari. Tepat pukul empat pagi aku pun menguap. Kucoba untuk merebahkan badan dan ……. Terlelap.

Pukul enam pagi suami membangunkan ku karena al bangun. Ya Tuhan sudah jam enam. Aku kelimpungan memikirkan sarapan anakku dan suamiku pagi ini.

“Ummi ndak bisa tidur ta tadi malam?”
Aku mengangguk.
“Cuci muka gi, bang Edi udah pergi. Kita beli soto aja ya buat sarapan, ummi ndak usah nyiapin makanan, ntar agak siangan aja baru masak.”

Aku mengangguk lagi. Al hanya tersenyum sambil menepuk nepuk tanganku. Beruntung ya punya suami yang pengertian juga, membiarkanku tertidur sampai jam enam karena tahu aku tidak bisa tidur semalaman. Tapi kerjaan dirumah jadi keteteran.


Gini ya rasanya ndak bisa tidur tu… ga enak banget. Beruntung orang-orang diberi kantuk dan kelelapan tidur. Aktifitas berjalan normal dan badanpun juga fit. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

27 June 2013

Ketika al tantrum

Tadi malam sekitar pukul 01.30 Al mengalami tantrum.  Seketika dia menangis dengan keras sejadi-jadinya.  Aku yang saat itu persis tidur disampingnya sangat kaget. Segera kutetek’I  dia namun dia memalingkan muka dan menangis dengan lebih keras sambil menendang nendang winny the pooh nya.
Mengingat al juga mengalami tantrum bulan lalu, aku sudah tidak begitu stress.  Kubisikkan kata-kata dalam batinku sendiri “Al tidak menginginkan menangis ditengah malam, dia hanya kurang nyaman”. Aku mencoba menggendong al dan membawanya kedapur. Segera kuisi gelas minumnya dengan air putih dari jirigen. Dia menolak.

“Al sayang, al mau apa? Masih malem. Lihat.. masih jam setengah 1. Al ndak mau bobok lagi?” kataku sambil terus menggendong dan mengelur punggungnya. Dia tidak menjawab apapun, hanya tangisan yang keluar dari mulut mungilnya.

“Duduk ya, kalau al belum ngantuk ummi temenin al maen. Al pengen maen apa?” aku terus memberikan pertanyaan padanya dengan harapan dia akan berhenti menangis karena menjawab pertanyaanku. Suara tangisanya perlahan mulai reda meski sesekali dia masih sesenggukan. Aku mencoba untuk duduk, namun dia menolak. Aku berdiri dan dia pun lagi-lagi menolak. Akhirnya dia kubaringkan disamping abinya. Mendadak dia kembali menangis yang membuat abinya kali ini terbangun.


“Kenapa al?” Tanya abi pada al dengan mata masih sedikit tertutup. Ajaibnya al langsung berhenti menangis. Seketika dia menengadahkan tangannya kea rah abi (minta digendong). Tanpa babibu abipun langsung menggendongnya. Padahal sebelum-sebelumnya abi tak pernah menggendong ketika al menangis dimalam hari. Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Mereka berdua berjalan kea rah dapur dan abi memberikan segelas air yang kuisi tadi dan al meminumnya. Setelah minum al menjadi ceria, dia menunjuk bola yang ada didepan tv sambil berkata

 “ba..ba…ba…”
“Al pengen maen bola?” Tanya abi.
“Ba..ba…ba”
“Ayo, al turun ya. Duduk dan maen bola sama abi”
“da…da…pa..pa..”

Alih-alih duduk, al justru menendang bola yang sudah ada didepannya. Walhasil abi dengan setia menitah al kemanapun dia menendang bola. Capek berjalan kesana kemari dengan menendang bola, al pun minta duduk. Kemudian dia menunjuk peci yang aku taruh di pinggir ranjang. Abi langsung mengambilnya dan memberikan kepada al. dan al memakai peci itu kemudian mengajak abi mengambil sajadah. Abi pun dengan sabar menurutinya. Ada sedikit kehangatan melihat semua itu. Setelah sajadah ditangan al dan dibentangkan, al pun duduk di atasnya. Dan dia sujud. Sujud lama sekali. Seketika aku dan abi terpingkal pingkal. Al sholat. Selesai sujud al pun menoleh ke arahku dan tersenyum dengan riang. Tak puas dengan sholat al pun bermain dengan boneka winny the poohnya dan melihat tayangan bola di televisi. Namun tampaknya ia tak begitu menyukai televisi. Dia pun beranjak ke ranjang dan memainkan jari-jarinya sambil berguling-guling dan tertawa terpingkal pingkal. Setengah jam kemudian dia menguap berkali kali dan minta ditemani bobok. Dan dia pun pulas dengan mimpinya. Anak yang menggemaskan. Mimpi indah ya sayang. 

25 June 2013

Menjadi diriku sendiri

Apapun yang terjadi dalam hidup. Entah itu menyenangkan atau menyedihkan (dalam kamus kita pribadi) yakinilah bahwa itu semua adalah yang terbaik. Yang terbaik untuk siapa? Terbaik untuk kita tentunya. Menurut kaca mata siapa? Kaca mata Tuhan.

Seringkali kita merasa saat kesedihan menyapa, Tuhan sangatlah tidak adil. Kenapa harus aku yang mengalaminya? Kenapa tidak orang lain saja, atau biarlah masalah itu tidak pernah terjadi dalam hidup. Hei.. kita salah. Justru Tuhan sangatlah adil. Dia memberikan suatu masalah dalam hidup kita karena Dia sangat mencintai kita, Dia ingin kita tumbuh dengan baik asalkan kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada. Karena Dia tahu seberapa lebar pundak kita, tak akan mungkin Dia memberikan suatu masalah jika kita tak bisa melewatinya atau menemukan solusi. Seringkali solusi tidak pernah ketemu karena kita sendiri yang enggan menyelesaikan dan tak mau mencarinya.

Pernahkan kita menerima ujian ketika kenaikan kelas? Sama seperti kita. Jika ingin level kita naik / bertambah baik pastilah Tuhan memberikan ujian untuk mengetahui seberapa pantaskah kita untuk naik kelas. Dan itu juga salah satu bukti bahwa Tuhan menyayangi kita. Tuhan peduli dengan kehidupan kita. Jika tak sayang dan tak peduli, buat apa ujian? Kita naik kelas atau tinggal kelas bukan urusan Tuhan kan berarti?

Aku sangat bersyukur bahwa aku pernah mengalami hal pahit dalam hidup. Mungkin dan banyak sekali orang yang lebih pahit lagi menjalani hidupnya dibandingkan denganku. Karena dari situlah Tuhan membentuk karakter kita. Lihatlah kebelakang dan kau akan tersenyum karena berhasil melewati semua masalah dengan baik. Atau jika tak sebaik yang dibayangkan kau bisa tumbuh dewasa ketika melewatinya. Saat kau mengalami hal pahit lagi kau tidak akan kaget, karena kau pernah mendapatkan yang lebih buruk dari ini. Sekarang yang kau alami NOTHING.


Aku bersyukur dengan kehidupanku sekarang. Jika ada pertanyaan “Ingin jadi apa kau dimasa lalu?” aku akan mantab menjawab “Menjadi diriku sendiri”.

24 June 2013

Dia pun menyukai sayur

Sempat bingung juga menghadapi al yang belakangan ogah – ogah makan. Setelah sakit selama seminggu lebih dua hari, nafsu makannya sedikit. Frustasi gitu kayaknya kalau waktu nyuapin al eh ternyata dia kekeuh dengan aksi tutup mulutnya.  Kroscek lagi dengan seminggu olahan yang aku buat untuknya. Selama seminggu tidak sayur satupun menemani makan al setiap harinya. Aku lebih banyak memasakkan ayam, telur dan ikan ke dalam olahan yang tidak mengandung kuah, dan hasilnya dia hanya mau makan dengan telur ceploknya. Oh mungkin karena tidak ada kuah itu ya. Alhasil aku membuat sayur asem, ayam goreng dengan bumbu kentaki dan tahu goreng.

Ternyata dia suka.


Ajaib…aku jadi ingat ketika menemani dia makan, dia paling suka mengambil aneka sayuran dalam mangkuk sayurnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Begitu setiap hari jika menu makannya ada sayurnya. Dan dia lahap sekali menghabiskan mangkuk sayurnya. Dan kali ini terulang lagi. Dia begitu bersemangat menghabiskan sayur asem yang tediri dari daun kangkung, krai dan wortel dimangkuknya. Sambil menerima suapan nasi dan menggigit ayam kentaki di tangannya.

Subhanllah…rasanya membahagiakan sekali kalau dia lahap menghabiskan semangkuk makanannya dengan perasaan riang. Ternyata anakku menyukai sayuran. Dulu kukira dia tidak menyukai sayur seperti abinya. Dugaanku keliru. Dia sangat hobi makan sayur. Ok sayang, mulai hari ini ummi akan selalu menyediakan sayur untuk menu makanmu.

20 June 2013

Romantis itu....


Romantis itu ketika abi tersenyum dan mencoba menggendong disaat aku lagi asyik menulis. dan ....
"Emph... berat mi...huph....ga bisa". sambil berusaha tetap menggendong.

seketika aku tertawa terpingkal pingkal. Berat badanku tidaklah ringan abi, makasih ya sudah mau mencoba menggendongku meski tidak berhasil. Tapi ini sudah bisa membuatku tersenyum dan sekali lagi jatuh cinta. (^_^)

19 June 2013

Sehat ya sayang

Disetiap kejadian pasti ada hikmahnya.  Setelah seminggu lebih dua hari nungguin al sakit radang tenggorokan, akhirnya kini aku bisa bernafas lega. Melihatnya tidur pulas tanpa harus menyaksikan dia bangun malam sambil menangis batuk batuk dan susah bernafas akibat tekanan didadanya. Sedih ketika melihatnya begitu tersiksa menahan batuk. Dengan mata yang berkaca-kaca dan ngantuk, dia harus terbangun. Pernah suatu ketika karena lelah dan mendapati al terbangun dimalam  hari ada sedikit emosi yang menyergap. Kenapa tidak tidur saja, hari sudah malam, kenapa harus terbangun disaat aku harus beristirahat. Egois itu muncul dan diluar kendali. Padahal jika aku berfikir dingin, al tidak meminta untuk bangun, rasa yang tidak enak didadanya yang menyebabkan dia harus bangun dimalam hari. Dan itu sama sekali bukan kemauannya. Astagfirullah.. maafkan ummi al. kenapa tidak aku ajak saja dia berbicara, menggendongnya dan membiarkan dia tidur di pelukanku sambil melupakan sesak didadanya akibat batuk, kenapa tidak kuceritakan padanya buku dongeng sambil menantinya tidur kembali.


Ego memang terkadang menghilangkan semua hal positif yang bisa saja kita lakukan saat itu.  Selang tiga hari batuknya yang tak kunjung reda, aku semakin merasa bahwa aku membutuhkan al. disamping emosi yang ada didiriku, ada satu sisi dimana aku menginginkan al sehat, tersenyum bahagia ketika melihatku dan beraktifitas dengan riang seperti biasanya.  Tak peduli seberapapun lelahnya aku harus terbangun tiap setengah jamnya menenangkan dia ketika batuknya kambuh. Memberikan asi padanya ketika dia butuh kedamaian untuk meredakan rasa yang tidak enak ditubuhnya selama sakit. Aku bahkan tak peduli sudah berapa jam aku memejamkan mata sekedar untuk menghilangkan penat.

Dalam untaian doaku selalu terselip namanya dan kesehatannya. Ah begitu tak berharganya apa yang kumiliki sekarang tanpa melihat al tumbuh dengan sehat. Semuanya terasa hampa jika aku tidak melihat senyumnya dan matanya yang berbinar ketika mengetahui sesuatu yang baru. Semua terasa tak berarti. Aku semakin sadar, setelah menjadi seorang ibu, seegoisnya diriku, aku tetap berharap putraku mendapatkan yang terbaik dan tumbuh sehat. Seminggu ini memberikan hikmah yang begitu banyak padaku, betapa aku harus banyak belajar memanage kesabaran dan mengerti arti mencintai yang sesungguhnya. Al, jika suatu saat kau membaca ini, ummi ingin katakan satu hal, ummi sangat mencintai al. ummi berharap al mendapatkan yang terbaik dalam hidup dan selalu disayangin Alloh. Ummi sayang al karena Alloh. Sehat yang sayang, masa depan yang cerah menantimu. 

05 June 2013

2 tahun bersama


“Mi, kapan kita nikah dulu?”. Abi memecah keheningan disela-sela keasyikanku blogwalking.
“Hayo kapan?”. Abi nih ya, masa ndak hafal tanggal nikahnya, keterlaluan :-D.
“1 mei, juni, eh salah… 1 juli ya mi, hampir dua tahun ya, perkawinan perak”. Jawabnya sambil nyengir.
“Perkawinan jagung bi”. Selorohku.
“Ah ummi, masa jagung”.
“Iya dong bi, la masa perak? Masih jauh dari itu bi, kita masih awal, ibarat anak, masih batita, masih harus banyak belajar”.

Hampir dua tahun pernikahan banyak yang dirasakan. Bahagia, ada suami dan istri serta anak yang menggemaskan. Jika dua tahun sebelumnya kami habiskan hari-hari dengan kegiatan kami sendiri-sendiri, sekarang kami menjadi satu, saling menguatkan, saling melengkapi dan mensuport.

Di tahun kedua pernikahan kami selalu terucap doa semoga keluarga ini semakin menjadi lebih baik dalam semua hal.  Agama, social, keuangan dan bisnis kami. Amin. 

04 June 2013

..:: Sebuah Konsekuensi ::..

Menjalani profesi sebagai ibu professional (ibu rumah tangga) tak segampang dengan yang diomongkan, terlebih jika anda menyandang gelar akademik tinggi dimasyarakat. Hal ini saya rasakan sendiri.

“Sayang ya, sekolah tinggi-tinggi sampai sarjana bukannya digunakan untuk bekerja diperusahaan atau instansi terkenal malah nganggur dirumah, ngemong anak”.

“La iya, si anu ini pinter, orang tuanya nguliahin dia tinggi-tinggi hanya jadi ibu rumah tangga, sama kayak kita, rugi”.

“Apa gunanya kuliah sampek ke malang kalau njluntrungannya Cuma dirumah, njaga bayi, ngurus rumah?”


Kalimat-kalimat diatas menjadi santapan saya setiap harinya ketika saya memutuskan untuk keluar kerja dan focus dirumah, mengurus segala macam urusan rumah tangga terutama mengurus buah hati kami yang sedang tumbuh.  Predikat sarjana yang ada dibelakang nama saya seringkali menjadi gunjingan tersendiri oleh tetangga saya melihat aktifitas saya yang hanya berkecimpung diurusan rumah tangga. Hei, apa salahnya jika seorang sarjana menjadi ibu rumah tangga, toh kodrat wanita memang dirumah, jihatnya seorang wanita ketika sudah menjadi istri ya dirumahnya, bukan diluar rumah. Meski kadang geregetan juga dengan omongan orang, namun dalam lubuk hati saya, saya bangga dengan apa yang saya jalani sekarang. Saya bangga menjadi seorang ibu rumah tangga.

Saya bangga menjadi seorang ibu rumah tangga, bekerja didalam rumah. Disaat orang lain hanya bekerja 5-8 jam sehari, saya bekerja 24 jam setiap harinya, tanpa hari libur, dari mata melek sampai tidur lagi.

Saya bangga menjadi ibu rumah tangga, bekerja dirumah. Orang lain bekerja diinstansi dengan berbagai macam jabatan yang mereka punya, saya bekerja dengan jabatan manager rumah tangga tanpa gaji, tanpa bonusan setiap bulannya. Gaji saya adalah ketika anak dan suami saya tersenyum menikmati makanan yang saya hidangkan, mereka nyaman dengan keadaan rumah yang bersih dan pakaian yang rapi dipakai setiap harinya dan terutama senyuman Tuhan kepada saya.

Pekerjaan kami seringkali diremehkan oleh orang lain. Tak ada yang bisa dibanggakan, tak ada yang bisa dilihat pencapaian karirnya setiap tahun. Hei.. ada yang bisa kami banggakan, ada pencapaian yang bisa dilihat jika mereka bisa sedikit membuka mata, telinga dan hati mereka. Fikirkan tentang anak-anak kami yang tumbuh dengan baik, dengan cinta dan toleransi. Asupan gizi yang eksklusif dari makanan terbaik yang disediakan Tuhan dalam ASI ibu mereka.

Ibu rumah tangga bukanlah pengangguran, bukanlah seonggok manusia tanpa guna, hargailah dan hormatilah mereka.

29 May 2013

Dia adalah guru privat terbaikku

Tak terasa sudah satu tahun lebih satu bulan putra kecilku meramaikan suasana dirumah.  Hampir setiap hari aku selalu dibuat terpesona olehnya karena polah tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Tak jarang dia membuatku terkagum-kagum karena kepandaian yang ia miliki, jiwa sosialnya terlihat saat ia berinteraksi dengan orang lain, bahkan dengan orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
abdurrahman

Denganya aku seperti terlahir kembali, kembali belajar dan memulai dari nol lagi. Dengan al aku belajar tentang kesabaran, tentang cinta, tentang cara mendengar dan cara berbicara. Bagaimana kesabaranku bisa terlihat ketika kami berinteraksi, mana yang murni sabar dan mana kesabaran yang dipaksakan bahkan kesabaran yang sudah tidak bisa dikatakan sabar lagi. Bagiku dia adalah guru privat terbaik yang kumiliki di jagat raya ini. Terima kasih sayang. Kau mengajari ummi tentang banyak hal.

Anak adalah peniru ulung, berikan dia sesuatu yang baik untuk ditiru.

Kata-kata ini tampak sederhana, namun pelaksanaanya tak sesederhana seperti yang dituliskan. Betapa aku sering masuk lubang ‘kesalahan’ ketika berinteraksi dengan al. Disaat kelelahan melanda setelah seharian sibuk mengurus rumah dan tentunya menemani al bermain, acapkali aku sering lupa mengontrol emosiku. Tak jarang aku berbicara meluap disaat al masih terjaga. Dengan alas an lelah aku seperti ‘meridhoi’ ucapan-ucapan kasarku dirumah. Aku benar-benar tak sadar bahwa al, putra kecilku ini selalu mendengar, selalu melihat apa saja yang kuucapkan dan apa pun yang kulakukan bahkan ketika aku tak menyadari bahwa dia selalu memperhatikan setiap gerak gerikku dengan seksama. Pernah suatu malam ketika kepalaku pusing, aku memukul kepalaku dengan keras, sangat keras. Keesokan paginya aku dibuat al terngaga ketika dia melakukan hal serupa yang kulakukan tadi malam. Aku ingat bahwa malam itu dia hanya rebahan dikasurnya dan melihatku. Tak pernah sedikitpun terlintas di fikiranku bahwa hal ini akan terekam dengan seksama di fikirannya. Hal itulah yang membuatku semakin sadar bahwa selama ini aku masih belum bisa mengerti bahwa dia selalu memperhatikanku dan menjadikanku bahan percontohannya.. ya Allah ampuni hamba…

Karena itulah sampai detik ini aku masih belajar, bagaimana menjadi pribadi yang baik, dan al adalah fasilitator terdekatku untuk meraihnya. Terima kasih al, darimu ummi belajar .

13 May 2013

Kenapa kita jatuh cinta dan menikah?



Hari ini menjelang dua tahun kami bersama, kehidupan kami sangat membahagiakan, diwarnai dengan segala urusan rumah tangga seperti layaknya rumah tangga yang lainnya, dan Alhamdulillah kami diberi amanah untuk menjaga si kecil Abdurrahman alghifari.

Dihari ini juga aku semakin bersyukur pada Allah karena dikenalkan dengan suamiku, dipertemukan dengan laki-laki biasa yang luar biasa. Dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dia dengan kesabaran yang amat sangat menghadapi polah tingkahku yang terkadang seperti anak kecil, merengek minta dibelikan balon, dia yang selalu ada ketika hati mulai berkecamuk dengan selentingan omongan yang tidak seharusnya difikirkan, karena toh banyak sekali hal-hal positif yang lebih layak untuk difikirkan. Dan dia adalah laki-laki pertama yang membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya.

Pada awal kami bertemu, aku sangat membencinya, dia berada diurutan pertama laki-laki yang harus kuhindari. Menurutku dia laki-laki yang rapuh, laki-laki yang tidak dapat berfikir dewasa, laki-laki yang hanya mencari kesenangan saja. Namun seiring berjalannya waktu, semua prasangka itu mampu diluluhlantakkan oleh semua pembuktiannya ketika dia selesai membacakan ijab Kabul. Laki-laki yang kubenci justru berubah menjadi laki-laki yang tangguh, dewasa dan bertanggung jawab. Seketika aku sadar, aku mencintainya dan cinta itu tumbuh seiring dengan waktu berlalunya hari-hari pernikahan kami.  Cinta yang halal dan cinta yang bertanggung jawab.

Aku bangga karena aku lah orang pertama yang mengajaknya menikah. Berbeda dengan situasi kebanyakan dimana laki-laki lah yang meminta untuk menikah. Bagiku ajakan itu bukan untuk merendahkan harga diriku justru pembuktian bahwa aku begitu menghormatinya, terlepas dari minimnya materi yang kumiliki saat itu. Disaat dia gencar-gencarnya mengejar dan mengajak menikah, aku tak peduli. Namun disaat dia menghilang dan aku tak punya satu pun akses untuk menemuinya, aku justru mengingat kertas bertuliskan nomor telepon persis dibawah meja komputerku. Tertutup debu dengan kertas yang kumal karena lama tak tersentuh. Dengan rasa takut, cemas dan tak tahu harus berfikir apa lagi, aku menelfonnya. Memintanya untuk menikahiku dengan bahasa yang aneh. Jika aku mengingat saat itu sekarang, aku hanya bisa tersenyum dan malu dan aku tak menyesal sudah melakukan hal itu, karena ternyata dia adalah ayah terbaik untuk anak-anakku.

Kenapa kita jatuh cinta dan menikah? Aku rasa kau memang tercipta untukku, begitupun sebaliknya. Dan aku hanya berusaha mencari dimana kepingan hati itu berada. Dan ternyata kepingan itu ada pada dirimu.

Abi, terima kasih telah mengajariku bagaimana cara untuk mencintai.

 

08 May 2013

..:: DOA ::..


Ya Rabb zat yang maha suci, maafkan dosa-dosa hamba. Hamba malu sekali padamu ya rabb. Telah banyak noda yang hamba torehkan pada tubuh dan hati hamba, padahal hamba tau semua ini adalah milikmu. Pantaskah hamba mengotori segala sesuatu yang tidak menjadi milik hamba.


Ya Rabb terima kasih atas limpahan rezeki yang Engkau berikan, hamba sadar rezeki tak hanya materi walaupun materi telah engkau cukupkan bahkan engkau lebihkan dengan berkenan mempercayai hamba dan suami hamba sebagai penyalur rezeki untuk orang lain. Keluarga yang harmonis, kesehatan, ketentraman dan kedamaian juga merupakan rezeki yang luar biasa yang engkau hadiahkan kepada kami. Bimbinglah kami untuk selalu mensyukurinya ya Rabb.

Ya illahi, engkau pun memberikan hamba dan suami hamba sebuah amanah dan keajaiban yang sangat hebat, dengan kelahiran putra kami ‘Abdurrahman al ghifari’ bimbinglah kami untuk bisa mengasuhnya, merawat dan mendidiknya. Agar doa yang kami sematkan dalam namanya bisa membuatnya menjadi laki laki yang bermanfaat untuk semesta, hamba allah yang pengasih dan pemaaf.

Ya Rabbi, ajari kami dan bimbing kami untuk selalu bersyukur atas semua limpahan karuniamu, bantulah kami untuk menjadi orang tua hebat untuk anak anak kami, lapangkan pundak kami untuk menyiapkan mereka menjadi pemuda yang tangguh, jadikanlah kami sebab untuk kebaikan orang lain ya rabb. Amin

30 April 2013

..:: Saat Kekayaan Tak Lagi Cukup ::..


Dulu aku mengira bahwa “Bahagia” adalah ketika hidupmu bergelimang harta, kau bisa bebas menentukan apa saja yang kau inginkan tanpa memusingkan dapat uang dari mana, bebas untuk memilih segala jenis kebutuhan bahkan untuk sekedar memanjakan keinginan.  Belakangan kusadari bahwa pikiranku itu salah, “Bahagia” tak semata hanya bergelimangan harta.
Aku benar-benar egois, demi memuliakan ego yang bersarang didalam hatiku, aku keluar rumah untuk bekerja. Menikmati sapaan dan sanjungan orang karena melihatku melakukan sesuatu yang ‘menghasilkan’. Mengabaikan perintah suamiku untuk ‘bekerja’ sebagai ibu rumah tangga dirumah. Pekerjaan seven to seven yang bagiku adalah bukan pekerjaan karena orang-orang tak akan melihatku ‘menghasilkan’ sesuatu. Sebuah sebutan yang membuatku malu ketika teman-teman sejawatku yang kebanyakan kerja dikantor menanyai ‘apa pekerjaanmu?’. Dengan nada pesimis dan senyuman tipis terpaksa kujawab ‘ibu rumah tangga’. Aku melenggang mantap dengan karir pendidikanku di luar rumah. Namun belakangan aku merasa kehidupan ini hambar. Memang aku memegang uang banyak, tapi ada rasa gersang didalam hatiku ketika melihat seorang anak kecil yang bergelayut manja di pundak ibunya. Ada perasaan sedih ketika pulang ke rumah hanyalah lelah yang kubawa, tidur dan tak menghiraukan apa yang anak dan suamiku butuhkan, dengan alas an ‘aku lelah’. Hatiku hanya berkata ‘ini tidak benar’. Aku diam membisu berhari hari dan memutuskan untuk meninggalkan karir diluar rumah ku dan focus untuk menjadi ibu rumah tangga professional di rumahku sendiri. Seven to seven yang kujalani bukanlah pekerjaan yang sepele. Disaat orang hanya bekerja 7-8 jam sehari, aku bekerja 24 jam. Dan aku bangga. Dan hatiku berbisiki, kekayaan tak lagi cukup untuk kebahagiaanku, aku bahagia dengan menjadi ibu professional dirumahku sendiri.
Bahagia adalah saat kau tumbuh bersama anakmu, menikmati fase-fase tumbuh kembang mereka, menyaksikan saat-saat pertama mereka belajar untuk berkata “pa..pa ; ma..ma ; da..da ; ta..ta”.
Bahagia adalah dimana kau mempunyai waktu untuk mengurusi semua keperluan anak dan suamimu mulai mereka bangun tidur sampai mereka tidur lagi.
Bahagia adalah ketika kau menghabiskan waktumu seharian untuk menemani anakmu main, walaupun kau harus belepotan spidol, crayon bahkan tanah.
Bahagia adalah ketika kau memberikan semua yang kau punya semaksimal mungkin untuk orang-orang yang kau cintai, dan tersenyum ketika melihat senyuman tulus diwajah mereka.

27 November 2012

5 Menit saja


Dalam sehari pernahkah kita meluangkan waktu lima menit saja untuk melihat kebelakang, jam-jam yang kita habiskan selama seharian ini? Untuk saya pribadi, jika dicatat pastilah banyak hal-hal yang tidak bermanfaat yang saya lakukan. Astagfirullah.. meskipun tahu dan sadar namun tetap saja saya mengulanginya, padahal malaikat selalu mencatat setiap perbuatan yang saya lakukan, Allah senantiasa melihat dan mendengar apa-apa yang saya katakan bahkan bersitan dalam hati saya pun tak luput dari pendengarannya. Astagfirullah… betapa malunya saya mengingat ini semua. Betapa banyak kealphaan yang saya lakukan sementara Allah selalu memberikan karunianya untuk saya. Betapa banyak kemaksiatan yang saya perbuat meskipun Allah memberikan semua yang saya perlukan dengan Cuma-Cuma. Betapa sedikitnya saya mengingatNYA meskipun tak sedetik pun Ia lupa memberikan udara bersih untuk saya hirup. Ya Allah ampuni hambamu ini yang lalai.

Lima menit sebelum tidur saya coba untuk mengingat kembali apa yang sudah saya kerjakan dan akan saya temukan banyak sekali yang membuat saya malu ketika nanti berhadapan denganNYA. Bagaimana saya bisa menganggap enteng semua ini padahal saya tahu bahwa nanti saya akan dihisap. Bagaimana saya tenang-tenang saja padahal diakhir waktu nanti banyak pertanggung jawaban yang harus saya pikul. Ya Allah jadikan hamba sebagai orang yang selalu bersyukur atas karuniamu. Amin.

Rasulullah bersabda : Dunia itu penjaranya orang beriman dan surganya orang kafir. (HR Muslim).
“Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat. Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.”(Syarah Shohih Muslim No. 5256)



03 November 2012

OH GOD.....

Baru - baru ini saya sering banget denger kata - kata galau ketika membuka facebook, liat tweet bahkan di blog kun galauers tambah banyak. Dikit - dikit galau. Diputusin pacar, galau. Ulangan jelek, galau. Dompet menipis, galau. Dan masih banyak lagi alasan galau. Ujung - ujungnya pikiran jadi sempit dan menyalahkan Allah. "Oh GOD.... why me?"


Trus gimana kalau Allah ganti menjawab kita dengan "WHY NOT?". Allah ga pernah galau tuh kalau kita ndak sholat. Ndak sedih kalau kita ndak sedekah karena dia sang maha kaya. Ndak pernah marah meski kita sering bermaksiat. Justru terkadang dengan semakin banyaknya kesalahan kita, Allah masih aja berbaik hati ngasih kita rezeki, bahkan yang terbaik. Harusnya kita berani bilang "WHY ME" ketika apa - apa udah disediain ama Allah tapi kita tak berbuat sesuatu yang menyenangkan Allah. Baru tu "WHY ME" keluar sebagai musahabah diri. 
Dikamus saya juga ada kata GALAU. Tapi artinya beda. 
God Always Listening And Understanding.
  hehehehe.... moga hari ini lebih baik lagi dari yang kemaren ya sahabat blogger.
 

25 October 2012

Keluargaku Surgaku

keluargaku surgaku

baru selesai mandi
Assalamualaikum kawan-kawan blogger. Lama sekali udah ga pernah lihat halaman ini lagi. alhamdulillah sekarang saya tidak sendiri lagi. dah liat kan ada foto nampang diatas. yup they're my spirit, my soul, and my lovely family. ada abi dan al . namanya Abdurrahman al ghifari. semoga nama itu kelak seperti jiwa yang ada padanya sekarang dan nanti. amin. lama ga nulis berimbas pada pemilihan kata-kata juga ya. terkesan formal. hehehee... tak apalah. pisau yang tajam emang harus tiap hari diasah. tul kan. doain ya temen-temen, supaya saya dan keluarga bisa istiqomah dalam menulis, syukur-syukur kalau tulisan kami bisa bermanfaat bagi diri kami pribadi tentunya dan orang lain. have a nice day.

21 March 2012

Cintaku mau melihat dunia

Tujuh hari lagi atau seminggu tepatnya insyaAllah perkiraan si kecil tercinta akan lahir. Bahagia bercampur rasa deg deg-an menunggu detik-detik dia melihat dunia. Mudah-mudahan proses kelahirannya nanti lancar. Dia sehat dan sempurna. Apapun jenis kelaminnya, ummi akan bahagia kamu hadir sayang.

Kata bidan dan beberapa teman yang pernah melahirkan menyarankan untuk sering dibuat jalan dan banyak minum air putih menjelang hari kelahiran karena kedua cara tersebut diyakini mempermudah proses kelahiran nanti. Meskipun kurang seminggu dari tanggal perkiraan, perutku sudah mulai sering kontraksi. Kata temanku itu adalah kontraksi palsu karena jaraknya masih lama antara kontraksi pertama dan kontraksi kedua. Sembelit juga gangguan akhir-akhir ini. Meski perut sakit tapi susah sekali untuk buang air besar. Terkadang malah terpaksa ngeden tapi kata teman-teman malah ndak dibolehin karena akan memperparah kontraksi. Saran dari mereka biarin aja meski agak ga enak.

Gerakan bayiku sekarang makin tambah lincah. Kalo dibuat diem aja malah tambah gerak-gerak tapi kalau dibuat jalan-jalan atau berdiri dia malah diam. Hm… kadang sering nyesek tapi lucu juga ngliat gerakannya yang kadang bisa buat perutku meruncing di satu sisi. Kalau siang diajak tidur gerak gerak lagi. Tapi menjelang sore tiba gantian dia yang diem, umminya yang ngantuk. Hehehe….

Cintaku yang sebentar lagi melihat dunia, ummi sudah ndak sabar pengen ketemu kamu. Jadi anak yang sholeh/sholehah ya sayang. Cinta Allah, cinta rasulnya, berbakti pada orang tua dan bermanfaat untuk orang lain. Semoga kamu diberi keindahan fisik dan hati. Amin. Love you sayang.